Atasi Karhutla dan Kemarau, Bupati Sri Juniarsih Gerak Cepat Hubungi BNPB, Dua Hari Kemudian Pesawat OMC Dilaksanakan

img

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas.


POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU :  Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mendapat respons cepat dari Pemkab Berau,  di tengah kondisi musim kemarau, Pemerintah Berau memilih tidak hanya menunggu hujan turun, tetapi berupaya “mendatangkan” hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

 

Langkah tersebut diawali komunikasi langsung Bupati Berau Sri Juniarsih Mas dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat. Hasilnya cukup cepat. Hanya berselang dua hari setelah komunikasi dilakukan, pesawat OMC yang sebelumnya berada di Kalimantan Selatan tiba di Berau dan langsung menjalankan operasi.

 

Kini, pesawat tersebut telah tiga hari beroperasi di langit Berau dengan melakukan penyemaian awan untuk memicu turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

 

Respons cepat tersebut turut menjadi bagian yang dipantau Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia Raja Juli Antoni saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Berau, Rabu (26/8/2026).

 

Kunjungan Menhut dilakukan untuk melihat secara langsung penanganan karhutla sekaligus memastikan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi terkait berjalan optimal.

 

Dalam penjelasannya Bupati Berau Sri Juniarsih mengatakan, kondisi karhutla membutuhkan penanganan yang cepat dan terkoordinasi. Karena itu, komunikasi dengan BNPB pusat dilakukan secara langsung agar dukungan armada dapat segera diterjunkan ke Berau. Bahkan, ketika BNPB menanyakan lokasi armada OMC terdekat, Sri menyebut Kalimantan Selatan sebagai wilayah terdekat.

 

“Komunikasi saya lakukan langsung dengan BNPB pusat. Ketika ditanya posisi armada terdekat, saya sebutkan dari Kalimantan Selatan. Hanya dalam waktu dua hari setelahnya, pesawat OMC langsung mendarat di Berau,” ujar Sri Juniarsih.

 

Menurutnya, langkah tersebut ditempuh untuk memotong jalur birokrasi sehingga penanganan karhutla di lapangan dapat dilakukan sesegera mungkin.

 

Kehadiran pesawat OMC di Berau kemudian menjadi salah satu bentuk respons terhadap kondisi cuaca dan karhutla yang tengah dihadapi daerah.

 

Dalam kunjungannya ke Berau, Raja Juli Antoni berkoordinasi langsung dengan tim gabungan yang terdiri dari BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

 

Koordinasi tersebut salah satunya difokuskan pada pemantauan kondisi awan untuk mendukung pelaksanaan OMC.

 

“Koordinasi difokuskan pada pemantauan kondisi awan guna menyukseskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) agar hujan dapat turun merata di seluruh wilayah Kabupaten Berau,” ungkap Sri Juniarsih.

 

Pemantauan kondisi awan menjadi bagian penting dalam operasi tersebut karena penyemaian dilakukan untuk memaksimalkan peluang terbentuknya hujan.

 

Saat ini, pesawat OMC telah memasuki hari ketiga pelaksanaan operasi di wilayah Berau. Pemkab Berau berharap pelaksanaan OMC selama lima hari dapat membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan. Turunnya hujan diharapkan dapat membantu memadamkan titik api sekaligus mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat.

 

Sri Juniarsih berharap upaya penyemaian awan tersebut memberikan hasil maksimal sehingga hujan dapat turun secara merata.

 

“Harapannya dalam kurun waktu lima hari pelaksanaan operasi OMC, upaya penyemaian awan dapat memicu curah hujan yang cukup untuk memadamkan titik api secara menyeluruh,” ujarnya.

 

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah berharap lingkungan dan aktivitas masyarakat Berau dapat kembali normal.

 

Kunjungan Menhut Raja Juli Antoni ke Berau tidak hanya membahas persoalan karhutla. Agenda tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan sertifikat Perhutanan Sosial.

 

Sri Juniarsih menilai program Perhutanan Sosial memiliki arti strategis bagi Berau. Kabupaten Berau diketahui memiliki kawasan hutan yang luas dan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, keberadaan kawasan hutan harus dijaga secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengelolaan yang tepat.

 

Karena itu, penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi penting, baik dalam penanganan karhutla maupun pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan.

 

Di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla, Pemkab Berau kini berharap langit segera memberikan jawaban. Pesawat OMC masih beroperasi. Awan terus dipantau. Penyemaian terus dilakukan. Harapannya sederhana: hujan turun, titik api padam, dan masyarakat Berau dapat kembali beraktivitas tanpa dibayangi ancaman karhutla. (sep/FN/Advertorial)